Program Kokolomboi Lestari di Desa Leme-Leme Darat Kecamatan Bungko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Program Kokolomboi Lestari di Desa Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, merupakan inisiatif konservasi hutan berbasis pemberdayaan masyarakat adat Togong Tanga. Program ini dijalankan oleh PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) dengan dukungan aktif dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai  Kepulauan.  Program  CSR  ini  juga bertujuan untuk melaksanakan pemberdayaan kaum rentan kelompok adat Togong Tanga yang merupakan suku asli Sea-Sea. Program ini berfokus pada empat pilar meliputi ekonomi, pendidikan,lingkungan, dan infrastruktur. Adapun keempat pilar ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri, sejahtera, dan memiliki wawasan lingkungan. Melalui program, DMF juga mendukung SDG’s khususnya tujuan nomor 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, nomor 10 berkurangnya kesenjangan, nomor 13 Penanganan Perubahan Iklim, dan nomor 15 Ekosistem Daratan.

Data di Kabupaten Banggai menunjukkan kondisi lahan mengalami degradasi sangat kritis di wilayah hutan sebesar 144, 86 Ha, dan lahan kritis sebesar 28.026,87 Ha. Selain itu, kegiatan tersebut juga telah mengancam satwa endemik Pulau Peleng, seperti Tarsius dan Gagak Banggai. Untuk menjaga keberlanjutan program, kondisi ekonomi masyarakat juga perlu ditingkatkan melalui cara-cara yang ramah lingkungan dan linear dengan tujuan dari pelaksanaan program. Perusahaan bersama dengan para pemangku kepentingan yang lain kemudian menciptakan inovasi budidaya lebah madu batu dan dahan yang ramah lingkungan melalui inovasi rumah lebah batang palem. Melalui inovasi ini, kini para petani madu sudah tidak melakukan perusakan pohon dan tebing di kawasan Kokolomboi.

Budidaya lebah madu menjadi salah satu upaya rehabilitasi kawasan hutan mengingat peran lebah sebagai polinator yang membantu penyerbukan tanaman di sekitar kawasan. Selain itu, budidaya lebah madu ini juga menjadi mata pencaharian masyarakat dari yang sebelumnya menjual kayu hasil hutan dan berburu satwa. Petani madu yang terlibat di dalam kawasan taman Kehati kokolomboi mencapai 10 orang dengan kemampuan panen sebesar 800-1200 liter/tahun. Kelompok tani madu Kokolomboi turut melibatkan petani madu di luar kawasan untuk memenuhi permintaan pasar, hingga saat ini sebanyak 245 anggota telah terafiliasi dengan kemampuan produksi sebesar 8.400 liter per tahun.

Selain manfaat ekonomi, program ini telah memberikan dampak perbaikan terhadap lingkungan melalui restorasi lahan sebesar 4 Ha serta pemulihan ekosistem dengan penanaman 2.500 bibit flora endemik yang sekaligus dapat menjadi pengkayaan pakan untuk satwa endemik. Perbaikan lingkungan juga ditunjukkan dengan adanya peningkatan satwa endemik Tarsius Peleng dari sebelumnya berjumlah dari 17 ekor menjadi 46 ekor dan peningkatan Gagak Banggai dari 1 ekor menjadi 8 ekor.

Keberhasilan program ini diakui secara nasional dengan penghargaan Tropi Proklim Kategori Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2021, serta penghargaan Indonesia Green Awards 2022 untuk kategori pengembangan keanekaragaman hayati. Kolaborasi antara PEP DMF dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai Kepulauan menjadi contoh sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

 

Sumber : https://kumparan.com/kumparanbisnis/kokolomboi-lestari-program-donggi-matindok-field- jaga-hutan-adat-togong-tanga-21XnMthnOhl

 


Senin, 9 Maret 2026
4 dilihat | 1 menit membaca

Berita dan cerita