Kawasan Pengelolaan Sampah Menuju Sirkular Ekonomi Mandiri (Awas Si Koma) dan Sekolah Ramah Lingkungan Kota Cimahi (Seralikoci)
Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi mengembangkan Awas Si Koma dan Seralikoci. Awas Si Koma ini telah meraih penghargaan inovasi terbaik kategori pemerintahan kota pada ajang Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KJB) 2024. Inovasi Awas Si Koma ini merupakan inovasi unggulan Pemerintah Kota Cimahi dalam upaya untuk mengatasi permasalahan sampah yang selalu terkendala dalam hal pembiayaan.
Pilot Project ini dilakukan oleh warga RW 18 Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara yang tergabung dalam kelompok Gerakan Ekonomi Mandiri (GEMI) 0418. Saat ini, warga telah dapat mengelola sampah rumah tangga secara mandiri melalui budidaya maggot lalat black soldier fly (BSF). Maggot tersebut dapat mengurai sampah organik sebanyak 21 ton per bulan. Selain itu, maggot juga digunakan sebagai pakan ikan lele. Adapun setiap bulannya, warga dapat menghasilkan 100 kg ikan lele yang sebagian hasilnya dibagikan secara gratis dan sebagian lagi menjadi produk olahan untuk dijual sebagai upaya peningkatan perekonomian warga. Sampah anorganik ada yang diproses menjadi kerajinan tangan dan juga diproses menjadi bahan bakar alternatif refused derived fuel (RDF) di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong. Program ini diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Program inovasi Awas Si Koma (Kawasan Pengelolaan Sampah Menuju Sirkular Ekonomi Mandiri) menjadi terobosan unggulan Pemerintah Kota Cimahi dalam mengatasi persoalan sampah. Program ini sukses mengantarkan Cimahi meraih penghargaan Inovasi Terbaik Kategori Pemerintahan Kota dalam ajang Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KIJB) 2024. Program ini bertujuan menangani sampah secara berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, industri, dan pemerintah daerah. Dalam hal ini, konsep ekonomi sirkular yang diusung Awas Si Koma bertumpu pada pemanfaatan kembali barang atau produk tak terpakai sebagai modal ekonomi.
Program ini tidak hanya mengurangi beban pembiayaan daerah dalam pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk aktif membangun peradaban baru dalam pengelolaan lingkungan. Diharapkan, keberhasilan di RW 18 dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Cimahi. Dengan demikian, program ini dapat diimplementasikan lebih luas guna menciptakan solusi kolektif untuk permasalahan sampah kota.