Kategori Artikel
Intikator 21 INDIKATOR NUA

Indikator 21_Kampung Hejo Sae di Kota Bandung

Kampung Hejo Sae adalah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang berlokasi di RW 09 Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung. Program ini dikembangkan oleh komunitas Wallagri dengan dukungan dari Rumah Zakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat. Tujuannya adalah menciptakan ruang kolaboratif atau co-working space yang berfungsi sebagai pusat kegiatan kreatif, produktif, dan berkelanjutan bagi warga setempat. Program ini telah meraih penghargaan sebagai Organisasi Masyarakat Sipil Terbaik dalam Indonesia’s SDGs Action Awards 2023 oleh Bappenas. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi nyata Kampung Hejo Sae dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, pengelolaan air bersih, energi terbarukan, dan konsumsi yang bertanggung jawab.

Kampung Hejo Sae terletak di Kawasan Sunda Polis, bagian utara dari rencana Kota Internasional Teknopolis Gedebage, Kota Bandung. Kawasan ini memiliki fungsi utama sebagai greenbelt atau zona ekologi hulu, mitigasi bencana, serta zona resapan air yang penting untuk Kawasan Bandung Utara (KBU) Timur dan Teknopolis. Selain berperan ekologis, Sunda Polis juga mempertahankan kantong- kantong budaya Sunda dan sisa-sisa lahan pertanian di pinggiran timur laut Bandung, menjadikannya lokasi strategis untuk mengembangkan model lingkungan mandiri berbasis pelestarian alam dan budaya Sunda.

Program ini menonjolkan nilai-nilai budaya Sunda seperti ririungan, rereongan, dan reureujeungan, yang tercermin dalam semangat gotong royong masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi, antara lain urban farming dengan memanfaatkan lahan sempit, pengelolaan sampah melalui bank sampah dan pusat pengolahan sampah, serta pemasaran hasil olahan di "Wallagri Creative Center" dan "Wallagri Mart".

Dalam tradisi Sunda, "buruan" atau halaman rumah berfungsi sebagai ruang paling produktif yang menjadi tempat budidaya tanaman obat, dapur hidup, serta berbagai aktivitas keluarga. Oleh karena itu, program "Buruan Sae" (Halaman Sehat, Asri, dan Ekonomi) dikembangkan untuk memperkuat model kampung kreatif dan mandiri berbasis pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Program “Buruan Sae” telah dijalankan sejak tahun 2019, dan berdasarkan data yang diperoleh dari Bappeda Kota Bandung bulan November 2021 program “Buruan SAE” ini telah berhasil diterapkan di sejumlah 151 Kelurahan dan 234 kelompok di Kota Bandung.

Tujuan utama Kampung Hejo Sae adalah menciptakan unit lingkungan kreatif, tangguh, dan mandiri, menjaga konsumsi pangan berkelanjutan, serta kehidupan sehat dan sejahtera. Sasaran program ini meliputi pengembangan Taman Wallagri 09 sebagai pusat edukasi 8 elemen green city, produktivitas buruan sae, dan Wallagri Centre sebagai co-working space pemberdayaan warga. Selain itu, tersedia juga fasilitas pusat seni budaya, dan layanan ramah lansia, yang semuanya berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini menjadi model RW Tata Kelola Lingkungan Terpadu di Kota Bandung yang dapat direplikasi di daerah lain untuk mendukung pencapaian SDG’s di tingkat lokal.

Sumber:

 

https://sdgs.bappenas.go.id/repository/public/d2a2fb24-ad9c-41e4-9274-1dcc3df016ea ; https://sdgs.bappenas.go.id/repository/public/9990;

https://khazanah.republika.co.id/berita/s3uq1u349/kampung-hejo-sae-binaan-rumah-zakat-raih- penghargaan-terbaik-indonesias-sdgs-awards ; Fauziah, Y. (2023). Pemberdayaan masyarakat

melalui program Kampung Hejo Sae dalam pelestarian lingkungan (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung djati Bandung).

 

 


Senin, 9 Maret 2026
15 dilihat | 1 menit membaca

Berita dan cerita