Indikator 32_Desain Pasif Pada Purwarupa Rusun Rendah Energi di Kota Tegal
Bangunan gedung merupakan salah satu sektor yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia setelah sektor industri dan transportasi. Di sektor ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus melakukan inovasi untuk mengurangi konsumsi energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pendekatan desain pasif tanpa mengurangi kenyamanan termal penghuni. Salah satu hasil inovasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Purwarupa Rumah Susun (Rusun) hemat energi yang saat ini telah terbangun di Kota Tegal, buah kolaborasi PU dengan Hiroshima University yang didukung oleh berbagai pihak baik dari Indonesia maupun dari Jepang.
Diresmikan tahun 2020, rusun dengan luas bangunan 500 m2 ini terdiri dari 12 unit hunian (tipe standar dan tipe loft) yang diperuntukan untuk kelas menengah ke atas. Rusun didesain agar responsif terhadap iklim melalui desain pasif sehingga memiliki kinerja termal yang baik tanpa menggunakan energi berlebih untuk pendinginan udara. Guna memaksimalkan penggunaan energi alam, Purwarupa Rusun dirancang dengan memperhatikan karakteristik iklim setempat yang panas-lembap. Tata arah (orientasi) bangunan dirancang sedemikian rupa dengan memperhatikan pergerakan relatif matahari dan pergerakan angin sepanjang tahun di lokasi tersebut. Balkon yang lebar berfungsi sebagai penyangga panas (thermal buffer) sekaligus sebagai peneduh (shading device) sehingga udara panas dari luar dan radiasi matahari langsung (direct solar radiation) tidak masuk ke dalam ruangan secara langsung.
Bangunan juga dilengkapi dengan void serta sirip angin (wind fin) di lantai dasar untuk mengarahkan angin sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi ventilasi apung (stack effect ventilation). Penerapan prinsip Radiant Cooling menggunakan Phase Change Material (PCM) yang diaplikasikan pada bagian lantai bangunan. Material ini dapat menyimpan panas ketika siang hari dan membuang panas pada malam hari sehingga menjaga unit hunian tetap dingin.
Kinerja termal rusun menunjukkan bahwa suhu udara di dalam ruang lebih rendah 5⁰C daripada suhu udara luar saat jam puncak di siang hari. Di saat yang sama, kelembapan udara di dalam ruang lebih rendah hingga 20%. Hal ini membuktikan bahwa bangunan purwarupa ini memiliki efek pendinginan sesuai dengan desain pasif yang diterapkan sehingga akan menghemat energi serta biaya pemeliharaan yang murah.
Pada tahun 2025 akan dibangun purwarupa rusun kedua seluas 273,5 m² yang terdiri dari 4 unit hunian untuk kelas menengah ke bawah. Mengusung konsep hybrid (kombinasi beton dan kayu), desain ini telah terbukti melalui simulasi mampu meningkatkan kinerja termal sekaligus mengurangi embodied energy dan emisi karbon. Rusun ini menerapkan strategi ventilasi inovatif yang menjamin distribusi udara merata sesuai standar kenyamanan. Purwarupa ini diharapkan dapat menjadi referensi dan standar untuk perancangan bangunan apartemen maupun rumah susun sederhana milik (Rusunami) di masa depan.
Sumber :
2. Buletin Ciptakarya edisi 06 tahun XXI November-Desember 2023
3. Balai Teknik Sains Bangunan, Kementerian PU