Indikator 31_Balikpapan: Kota Bersih, Kota Gemilang!
Kota Balikpapan merupakan kota terbesar kedua di Kalimantan Timur setelah Samarinda. Kota ini mengandalkan sektor industri, jasa, perdagangan, dan pariwisata sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, jumlah penduduk Kota Balikpapan mengalami peningkatan pesat, mencapai 733.396 jiwa pada pertengahan tahun 2023. Kota Balikpapan telah berhasil meraih predikat sebagai kota terbersih di Indonesia. Penghargaan bergengsi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yaitu Adipura Kencana untuk kategori Kota Besar, berhasil diraih pada tahun 2023. Prestasi ini menunjukkan komitmen kota dalam menjaga kebersihan dan lingkungan yang berkelanjutan.
Keberhasilan ini tidak berhenti di tahun 2023. Kota Balikpapan kembali mempertahankan penghargaan Adipura Kencana pada tahun 2024 menjadikan kota yang telah memenangkan penghargaan Adipura sebanyak 25 kali. Dari jumlah tersebut, enam diantaranya merupakan Adipura Kencana, sementara sisanya adalah Adipura Paripurna. Penghargaan Adipura Kencana pada tahun 2024 menjadikan satu-satunya kota besar yang menerima penghargaan tertinggi di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan tersebut. Penghargaan Adipura Kencana diberikan berdasarkan beberapa indikator utama, antara lain: 1) kebersihan area pasar, 2) pengelolaan sampah, serta 3) keberadaan dan pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kota Balikpapan memiliki TPA Manggar yang sudah menerapkan sistem Sanitary Landfill, yaitu metode pengelolaan sampah yang dinilai lebih efektif dan ramah lingkungan. Selain itu, inovasi pemanfaatan gas metana dari TPA Manggar telah berhasil menyediakan energi bagi sekitar 300 rumah tangga di kota ini.
Selain penghargaan Adipura Kencana, Kota Balikpapan juga meraih penghargaan ASEAN Clean Tourism Award 2024, yang semakin mengukuhkan reputasi kota ini sebagai kota yang bersih dan layak dikunjungi. Prestasi ini menunjukkan bahwa Kota Balikpapan tidak hanya terfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penghargaan yang diraih Kota Balikpapan memberikan manfaat signifikan, tidak hanya dalam aspek citra dan prestasi kota, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas hidup dan kesehatan penduduk.
Penghargaan Adipura Kencana memotivasi Kota Balikpapan untuk mempertahankan standar tinggi dalam pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, dan kualitas udara. Data terbaru menunjukkan bahwa kadar PM2,5 berkisar antara 7 hingga 11,3 µg/m³ dan PM10 dari 11 hingga 12,8 µg/m³—keduanya di bawah ambang batas WHO, yang menunjukkan kualitas udara yang baik. Pencapaian ini mencerminkan upaya konsisten kota dalam pemantauan kualitas udara, yang dikelola oleh Badan Lingkungan Hidup menggunakan metode aktif (High Volume Air Sampler) dan pasif (Passive Sampler).
Beberapa faktor berkontribusi terhadap polusi udara di Balikpapan, termasuk meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, dan emisi rumah tangga. Peran kota sebagai pintu gerbang menuju ibu kota baru Indonesia telah mempercepat lalu lintas dan emisi. Industri besar, khususnya minyak dan gas, juga berkontribusi signifikan terhadap penurunan kualitas udara.
Selain itu, pembakaran sampah—baik dari rumah tangga, industri, atau area terbuka—melepaskan polutan berbahaya ke udara. Kondisi cuaca seperti angin dan tata letak geografis kota memengaruhi penyebaran polutan ini. Pertumbuhan populasi yang cepat semakin meningkatkan konsumsi energi dan penggunaan transportasi, sehingga meningkatkan polusi udara.
Penambangan dan penggalian di sekitar kota menghasilkan debu dan partikel di udara. Untuk memantau sumber polusi, Balikpapan menggunakan berbagai alat: HVAS untuk total partikel tersuspensi (TSP), sensor elektronik untuk PM2.5 dan PM10, dan impinger untuk gas seperti SO2, NO2, O3, NH3, dan H2S. Kota ini juga menggunakan sistem pemantauan udara otomatis dengan data waktu nyata tentang kondisi cuaca dan tingkat polutan.
Penggunaan metode HVAS dan Passive Sampler memberi Balikpapan keunggulan dalam pemantauan kualitas udara. HVAS menyediakan pengambilan sampel yang tepat dari volume udara yang besar, sementara Passive Sampler menawarkan data berkelanjutan yang hemat biaya. Pendekatan metode ganda ini meningkatkan akurasi dan cakupan, sehingga memungkinkan kota mengadopsi kebijakan lingkungan yang responsif dan berbasis data serta meningkatkan kemampuannya untuk mengelola polusi udara secara efektif.
Sumber: