Kategori Artikel
Intikator 28 INDIKATOR NUA

Indikator 28_Yogyakarta dan Strategi Kota Kompak

Kota Yogyakarta, sebagai salah satu pusat budaya dan pendidikan di Indonesia, menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan pertumbuhan wilayah perkotaan. Dengan jumlah penduduk mencapai 414.705 jiwa pada tahun 2023, kota ini memiliki kepadatan penduduk sebesar 12.636 jiwa per kilometer persegi. Tingginya kepadatan ini menimbulkan tekanan terhadap infrastruktur dan lingkungan, serta mengancam kelestarian keanekaragaman hayati akibat alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat alami.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama berbagai pemangku kepentingan menerapkan strategi urban compactness. Pendekatan ini fokus pada peningkatan kepadatan dan efisiensi penggunaan lahan di wilayah tepi kota, guna mengurangi ekspansi wilayah yang tidak terkendali. Penelitian menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit dalam tingkat kekompakan kecamatan-kecamatan peri-urban mampu mengurangi sebesar 0,429 unit tingkat perubahan ruang di kawasan sub-urban. Hal ini berarti pengendalian pertumbuhan horizontal kota dapat dilakukan dengan memperkuat pemanfaatan ruang yang sudah ada, mencegah ekspansi wilayah yang tidak terkendali, dan pada saat yang sama, menjaga ekosistem lokal tetap utuh.

Yogyakarta tidak hanya membangun strategi di atas kertas, tetapi juga telah menerapkan berbagai inisiatif nyata yang memperkuat konsep kota kompak dan ramah keanekaragaman hayati. Beberapa contoh terbaik antara lain:

1. Wisdom Park UGM. Universitas Gadjah Mada mengembangkan Wisdom Park, ruang terbuka hijau seluas 6 hektar yang menjadi kawasan konservasi dan edukasi keanekaragaman hayati di tengah kota. Taman ini tidak hanya menjadi pusat penelitian lingkungan, tetapi juga menjadi ruang publik yang mendukung fungsi sosial-ekologis kota.

2. Urban Beekeeping di Padukuhan Mrican

Di lingkungan padat penduduk seperti Padukuhan Mrican, Sleman, masyarakat bersama akademisi mengembangkan budidaya lebah klanceng (Meliponini). Inisiatif ini memperkuat rantai penyerbukan tanaman di lingkungan urban, menjaga keberadaan spesies penting, sekaligus memberdayakan ekonomi warga.

3. Kehidupan Satwa di Jalur Hijau Perkotaan

Studi yang dilakukan di jalur hijau sepanjang jalan di Kota Yogyakarta menemukan keberadaan 12 spesies burung dengan tingkat keanekaragaman sedang. Hal ini membuktikan bahwa meskipun ruang hijau sempit, jika dikelola dengan baik, tetap bisa menjadi habitat penting bagi satwa liar dan menunjang ekosistem kota.

Melalui kombinasi strategi perencanaan ruang yang padat dan efisien dengan berbagai praktik nyata di tingkat komunitas dan institusi, Yogyakarta berhasil menunjukkan bahwa kota kompak tidak hanya berkontribusi terhadap efisiensi tata ruang, tetapi juga terhadap pelestarian keanekaragaman hayati di tengah tantangan urbanisasi. Pendekatan ini menjadi contoh penting bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengembangkan model pembangunan yang berkelanjutan, adaptif, dan inklusif terhadap nilai-nilai ekologis.

Sumber:

1.     Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Yogyakarta. (2023). Profil Kependudukan Kota Yogyakarta Tahun 2023. Diakses dari: https://dindukcapil.jogjakota.go.id

2.     Hidayati, N. R. (2015). Transformasi Ruang Sub Urban: Studi Urban Sprawl dan Strategi Urban Compactness di Perkotaan Yogyakarta. Tesis, Universitas Gadjah Mada. Diakses dari: https://etd.repository.ugm.ac.id

3.     PSLH UGM. (2022). Ruang Terbuka Hijau Perkotaan: Menatap Sepetak Taman Hoya di Rooftop PSLH UGM. Diakses dari: https://pslh.ugm.ac.id

4.     Fakultas Biologi UGM. (2022). Urban Beekeeping untuk Pelestarian dan Edukasi Keanekaragaman Hayati. Diakses dari: https://biologi.ugm.ac.id

5.     Sularso, E., & Mardiana, R. (2020). Perubahan Penggunaan Lahan dan Lanskap Pekarangan Produktif di Wilayah Godean, Sleman. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 27(3). Diakses dari: https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/53401

 

6.     Dwiatmoko, A. A. (2021). Identifikasi Keanekaragaman Hayati Burung di Jalur Hijau Perkotaan Kota Yogyakarta. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan dan Perikanan, IPB. Diakses dari: https://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/view/32441


Selasa, 14 April 2026
7 dilihat | 1 menit membaca

Berita dan cerita